Jumat, 06 Desember 2013

LAPORAN MAHASISWA KSDL 2012 UNSYIAH TENTANGSURVEY EVALUASI KESESUAIAN LAHAN DI LBH SAREE


PENDAHULUAN

A. Latar Belakang   
Lahan merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Oleh karena kepentingannya tersebut maka lahan harus di evaluasi untuk apa peruntukan dan penggunaannya. Tentunya penggunaan lahan haruslah sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh lahan tersebut, sehingga pemanfaatan lahan bisa lebih optimal.
Lahan adalah lingkungan fisik yang terdiri atas iklim, relief, tanah, air dan vegetasi serta benda yang diatasnya sepanjang ada pengaruhnya terhadap penggunaan lahan. Penggunaan lahan merupakan setiap bentuk intervensi manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya baik material maupun spritual. Tipe penggunaan lahan dibagi menjadi lahan pertanian dan lahan bukan pertanian
Evaluasi lahan merupakan salah satu komponen penting dalam proses perencanaan penggunaan lahan. Hasilnya memberikan alternatif penggunaan lahan dan batas kemungkinan penggunaan serta tindakan pengelolaan yang diperlukan sehingga dapat digunakan secara lestari.. Evaluasi lahan merupakan proses penilaian keragaan atau kinerja lahan jika digunakan untuk tujuan tertentu, meliputi pelaksanaan dan interpretasi seruvei dan studi

B. Tujuan Praktikum
  1. Survei, Pengeboran Sampel dan Pengamatan Lapangan diharapkan dapat mengetahui tahapan dan metode lapangan dalam pengamatan tanah dan agroekosistem lingkungannya
  2. Evaluasi dan kesesuaian lahan ini adalah diharapkan dapat diketahui tentang potensi dan kesesuaian lahan yang diamati

C. Metode, Alat dan Bahan
Metode bebas sistematik, pengamatan atas dasar peta kerja unit lahan, site ditentukan di lapang berdasarkan lokasi dan grid
Metode yang digunakan adalah dengan melakukan survei lapangan, dimana lahan yang diamati seluas 4 Ha, dimana membagi beberapa titik pengamatan berdasarkan grid dan jarak per 100 meter. Pada setiap titik pengamatan diamati tanah dan agroekosistemnya begitu pun di titik selanjutnya. Pengamatan seluas 4 Ha diambil titik pengeboran sebanyak 10 titik (red. Peta Kerja).
Alat dan bahan yang digunakan adalah bor, GPS, Abney Level, Muncel Soil Calour Chart, pisau, peta, plastik, label, cangkul dan alat tulis menulis serta cairan kimia H2O2 dan HCL

D. Lokasi Kegiatan
            Lokasi kegiatan praktikum evaluasi sumberdaya lahan ini dilakukan pada areal lahan pertanian Balai Benih Hortikultura Saree Kabupaten Aceh Besar

















HASIL PENGAMATAN DAN
PEMBAHASAN

A. Pemboran Tanah di Lapangan
Dari hasil kegiatan pengamatan pemboran di lapangan, diperoleh sebaran data (Tabel 1) dengan kondisi tanah secara simultan:
1.      Tingkat kedalaman tanah (solum) bervariasi  antara 40 sampai 60 cm.
2.      Warna tanah pada lapisan top soil yaitu 10YR¾ (dark yellow brown) dan pada lapisan sub soil 7,5YR3/3 (dark brown).
3.      Memiliki tekstur tanah lempung dengan konsistensi tanah lembab adalah lekat dan konsitensi tanah basah adalah agak lekat.
4.      pH tanah berkisar 5,4 - 6,8 serta hampir merata ditemukan sedikit bahan organik baik pada lapisan top soil maupun sub soil.
5.      Lokasi pengamatan telah mengalami penggunaan tanah dengan ditandai adanya bekas pengelolahan lahan yang dilakukan oleh manusia. Vegetasi yang terdapat di lapangan saat pengamatan berupa alang-alang dan sedikit sisa-sisa tanaman hasil penggunaan lahan sebelumnya seperti tanaman umbi kayu, dan juga ditemui beberapa tanaman keras menghasilkan berupa tanaman durian.
Sebaran jejak penggalian pengeboran yang dilakukan berdasarkan peta kerja (Gambar 2) dengan sistem grid serta sistem taktis.





Gambar 1. Pengeboran dan Pengamatan Tanah Lapangan


Tabel 1. Data Pemboran Tanah di Kemukiman Saree Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar
Nama Pemeta  : Kelompok I              Data               :                         Cuaca                  : Mendung      Vegetasi                           : Alang-alang, Durian, Singkong
Pemboran No  : 1 – 10                       Kabupaten    : Aceh Besar     Tinggi Tempat   : 50 mdpl       
Tanggal            : 9 November 2013     Lokasi            : Saree               Derajat Lereng  : 10 - 14 %      Peng. Tanah                          : Lahan kering
No.
Dalam (cm)
Warna
Tekstur (Lapangan)
Konsistensi
pH Lapang
Reaksi Terhadap
Vegetasi
HCl
H2O2
1
0 - 20 cm
10YR3/4 (dark yellow brown)
Lempung
L (Gembur)
B (Agak lekat)
6,2
-
-
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR3/3 (dark brown)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
-
2
0 – 20 cm
7,5YR2,5/1 (black)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
6,2
-
Sedikit
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR2,5/3 (very dark brown)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
40 – 60 cm
7,5YR3/3 (dark brown)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
3
0 – 20 cm
7,5YR2,5/1 (black)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
5,8
-
sedikit
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR2,5/1 (black)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
sedikit
40 – 60 cm
7,5YR3/2 (dark brown)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
sedikit
4
0 – 20 cm
10YR2/1 (black)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
5,5
-
banyak
Alang-alang, singkong
20 - 40 cm
10YR2/1 (black)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
banyak
5
0 – 20 cm
10YR2/2 (very dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
6,0
-
sedikit
Alang-alang, singkong
20 - 40 cm
7,5YR2,5/2 (very dark brown)
Lempung
L ( Gembur)
B (Agak lekat)
-
sedikit

Tabel 1. ...lanjutan

Nama Pemeta  : Kelompok I              Data               :                         Cuaca                    : Mendung    Vegetasi                           : Alang-alang, Durian, Singkong
Pemboran No  : 1 – 10                       Kabupaten    : Aceh Besar     Tinggi Tempat      : 450 mdpl   
Tanggal            : 9 November 2013     Lokasi            : Saree               Derajat Lereng     : 10 - 14 %    Peng. Tanah                           : Lahan kering
No.
Dalam (cm)
Warna
Tekstur (Lapangan)
Konsistensi
pH Lapang
Reaksi Terhadap
Vegetasi
HCl
H2O2
6
0 - 20 cm
7,5YR3/2 (dark brown)
Lempung
L (Tidak lekat)
B (Agak lekat)
5,8
-
Sedikit
Alang-alang, durian
20 - 40 cm
7,5YR3/2 (dark brown)
Lempung
L (Tidak lekat)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
40 – 60 cm
7,5YR4/4 (brown)
Lempung
L (Tidak lekat)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
7
0 – 20 cm
7,5YR2,5/1 (black)
Lempung
L (Tidak lekat)
B (Agak lekat)
5,9
-
Sedikit
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR3/4 (dark brown)
Lempung
L (Tidak lekat)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
40 – 60 cm
7,5YR4/6 (strong brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
-
Sedikit
8
0 – 20 cm
7,5YR2,5/2 (very dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
5,4
-
sedikit
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR3/3 (dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
-
sedikit
9
0 – 20 cm
7,5YR2,5/2 (very dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
6,8
-
banyak
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR3/4 (dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
-
banyak
10
0 – 20 cm
7,5YR2,5/1 (black)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
6,6
-
sedikit
Alang-alang
20 - 40 cm
7,5YR2,5/3 (very dark brown)
Lempung
L ( Agak lekat)
B (Agak lekat)
-
sedikit


B. Penentuan Kesesuaian Lahan
            Penentuan penilaian kesesusaian lahan dilakukan dengan mengambil lokasi pada titik pengamatan pengeboran pewakil yaitu titik 6 dengan mengambil sampel tanaman yang tumbuh di lokasi adalah tanaman durian. Hasil penentuan kesesuaian lahan adalah sebagai berikut:
            Tipe iklim pada titik pengamatan 6 yaitu di Kemukiman Saree Kecamatan Lembah Seulawah adalah tipe iklim B (basah) dengan curah hujan 2200 mm dan suhu 28ºC, berdasarkan tipe iklim maka kriterianya adalah S1. Titik pengamatan 6 berada pada lereng 10% maka kriterianya S1 tetapi untuk bahaya erosi kriterianya S2, kondisi permukaan tanah baik, tidak terdapat batuan permukaan dan tidak ada singkapan batuan maka kriterianya adalah S1. Kondisi drainase tanah baik, tanah memiliki tekstur lempung (halus) maka kriterianya adalah S1, tetapi kedalaman efektif tanah adalah 60 cm sehingga kriterianya adalah S3.
            Kondisi kimia tanah pada titik pengamatan 6 beragam, pH H2O tanah adalah kriteria S1 tetapi kapasitas tukar kation (KTK) tanah diperkirakan < 16 me/100gr, bahan organik tanah sedikit, keadaan kejenuhan basa (KB) tanah, pH HCl tanah masuk dalam kriteria S2. Setelah mengamati kondisi lapangan dan membandingkan dengan kriteria kesesuain lahan untuk tanaman durian, maka hasil kriterianya adalah S3rc yaitu  sesuai marginal, keadaan kesesuaian lahan S3 ini disebabkan karena faktor penghambat pada media perakaran (rc) yaitu pada kedalaman efektif, untuk data lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Karakteristik Lahan dan Kesesuaian Lahan Tanaman Durian
Karakteristik Lahan
Data
Kesesuaian Tanaman Durian
 t- Rejim emperatur
  1. Curah hujan
  2. Rata-rata temperatur  tahunan (0C)

2200 mm/thn
28 oC

S1
S1
w- Ketersediaan Air
1.   Bulan Kering
2.   Rata2 Curah Hujan

---
---


Karakteristik Lahan
Data
Kesesuaian
Tanaman Durian
r- Kondisi Perakaran
  1. Drainase
  2. Tekstur Tanah
  3. Kedalaman Perakaran

Baik, agak lambat
Clay Loam
 60 cm

S1
S1
S3
 f- Retensi Nutrisi
1.         KTK
2.         pH

< 16 me/100g
5,8

S2
S2
 n- Ketersediaan Hara
  1. Total N
  2. P2O5 tersedia
  3.  K2O tersdia

---
---
---

 x- Toksisitas
  1. Salinitas

---

 s- Kondisi Lapang
1.         Lereng
2.         Sebaran Batuan
3.         Singkapan Batuan
4.         Ketinggian
5.         Letak Geografis

0 - 8 %
Tidak ada
Tidak ada
450 mdpl
..............  N
..............  E

S1
S1
S1


Kesesuaian Lahan Aktual
Sub Kelas

S3
rf
Faktor Pembatas
~ Kedalaman perakaran
~ Retensi nutrisi (KTK dan pH)
~
Ksesuaian Lahan Potensial

S2-r

C. Pengamatan Profil dan Klasifikasi Jenis Tanah
            Bersadasarkan hasil pengamatan lapangan pada profil tanah di Km 72 Saree kecamatan Lembah Seulawah ditemukan tiga lapisan/horison tanah dengan kedalaman tanah 75cm, yaitu horison A, horison BA dan horison Bt.  Kondisi perakaran halus banyak pada kedalaman 0cm – 75cm, kondisi perakaran kasar sedikit dengan kedalaman 0cm – 20cm, pH tanah 4,9.  Keadaan lereng 10% dengan ketinggian 450 mdpl, kondisi cuaca mendung, tipe iklim B (basah), fisiografi pegunungan dengan relief makro berbukit dan relief mikro lereng berbukit, keadaan lereng tunggal, lurus dengan eksposisi sebelah selatan dan penggunaan lahan sebagai kebun campuran.
            Horison A memiliki kedalaman 0 cm – 25 cm dengan batas horison ombak, warna tanah 7,5YR3/3 (dark brown), tekstur tanah lempung dengan tingkat perkembangan struktur tanah lemah, ukuran struktur halus dengan bentuk gumpal bersudut, konsistensi agak lekat (basah) dan gembur ( lembab), tidak terdapat kandungan kapur ( CaCo3) dan banyak terdapat bahan organik.
            Horison BA memiliki kedalaman 25 cm – 50 cm dengan batas horison ombak, warna tanah 7,5YR3/3 (dark brown), tekstur tanah lempung dengan tingkat perkembangan struktur tanah sedang, ukuran struktur sedang dengan bentuk gumpal bersudut, konsistensi agak lekat (basah) dan gembur ( lembab), tidak terdapat kandungan kapur ( CaCo3) dan terdapat sedikit bahan organik.
Horison Bt memiliki kedalaman 50 cm – 75 cm dengan batas horison ombak, warna tanah 7,5YR3/3 (dark brown), tekstur tanah lempung dengan tingkat perkembangan struktur tanah kuat, ukuran struktur sedang dengan bentuk gumpal bersudut, konsistensi agak lekat (basah) dan gembur ( lembab), tidak terdapat kandungan kapur ( CaCo3) dan terdapat sedikit bahan organik, untuk data lebuh jelas dapat dilihat pada Lampiran 5.
Berdasarkan kunci klasifikasi taksonomi tanah (Soil Survey Staff, 2006), lokasi pengamatan memiliki ciri ordo Alfisol. Kondisi tersebut dicirikan dengan adanya horison argilik yaitu terdapat penimbunan liat pada horison Bt, memiliki regim kelembaban udik maka subordo tanah tersebut adalah Udalf, memiliki great group Hapludalf yaitu Udalf yang lain, kondisi rejim suhu isohipertermik karena memiliki suhu rata-rata tahunan > 22ºC yaitu > 28ºC, memiliki kandungan mineral liat montmorillonit karena memiliki mineral tipe 2:1, memiliki epipedon molik karena horison permukaan > 18cm. Kondisi perakaran terdapat banyak batuan sehingga subgrup tanah tersebut ialah Lithik Hapludalf.
Tabel 3.  Hasil klasifikasi tanah di Saree Kecamatan Lembah Seulawah menurut 
   Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 2006)

Pedon
Kategori
Klasifikasi Tanah
Km 72
Ordo
Alfisol

Subordo
Udalf

Great group
Hapludalf

Subgrup
Lithik Hapludalf

Famili
Lithik Hapludalf, berliat, montmorillonit, isohipertermik














0 – 25 cm
 







25 – 75 cm
 







50 – 75 cm
 


 















Gambar 3. Penampang Profil Tanah



KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil pengamatan di lapangan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Terdapat 10 titik pemboran dengan tekstur tanah lempung, keadaan warna tanah, kedalaman efektif, pH tanah dan bahan organik tanah beragam, vegetasi yang terdapat di lokasi pemboran adalah alang-alang, tanaman singkong dan tanaman durian.
2.      Kesesuaian lahan pada tanaman durian di titik pengamatan 6 adalah kriteria S3rc yaitu sesuai marginal dengan faktor pembatas media perakaran (rc) yaitu pada kedalaman efektif.
3.      Hasil klasifikasi tanah di lokasi Km 72 menurut Kunci Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 2006) di lokasi pengamatan mempunyai ordo Alfisol karena memiliki horison argilik pada horison Bt,  pada tingkat subordo adalah Udalf  karena mempunyai regim kelembaban udik. Pada tingkat great group yaitu Hapludalf dan tingkat famili adalah Lithik Hapludalf, berliat, montmorillonit, isohipertermik.

B. Saran
            Untuk hasil data yang lebih akurat, sebaiknya dilakukan pengambilan sampel tanah dan diamati di Laboraturium penelitian tanah.




DAFTAR PUSTAKA

FAO. 1976. A Framework of Land Evaluation. FAO Soil Bull. No. 32/I/IRLI Publ. No.22 Rome, Italy. 30h.

Harjowigeno, S. 1985. Ilmu Tanah. Jakarta: Akademik Persindo.

Rayes, Luthfi. 2007. Metode Inventarisasi Sumberdaya Lahan. Yogyakarta:           Penerbit Andi.

Sitorus, Santun P. 1985. Evaluasi Sumberdaya Lahan. Bandung: Tarsito.

































Lampiran 1. Deskripsi profil tanah Km 72 Saree Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar

Pedon                          : Km 72 Saree
Tanggal Pengamatan   : November 2013
Lokasi                         : Kemukiman Saree, Kecamatan Lembah Seulawah,
  Kabupaten Aceh Besar.
Curah Hujan                : 2200 mm/tahun
Fisiografi                     : Pegunungan
Bentuk Wilayah          : Lurus
Drainase                      : Sedang
Permeabilitas               : Sedang
Air Tanah                    : -
Penggunaan Lahan      : Kebun campuran
Vegetasi                      : Alang-alang, pisang, legum-leguman
Klasifikasi Tanah        : Lithik Hapludalf, berliat, montmorillonit, isohipertermik.
Epipedon                     : Molik
Horison Penciri           : Argilik

Simbol Horison
Kedalaman
Uraian
A
0-25 cm
Dark brown (7,5YR 3/3), gumpal bersudut, lemah, halus, agak lekat, gembur, perakaran halus banyak, perakaran kasar sedikit, batas horison ombak, bahan organik banyak.
BA
25-50 cm
Dark brown (7,5YR 3/3), gumpal bersudut, sedang, sedang, agak lekat, gembur, perakaran halus banyak, batas horison ombak, bahan organik sedikit.
B (t)
50-75 cm
Dark brown (7,5YR 3/4), gumpal bersudut, kuat, sedang, agak lekat, gembur, perakaran halus banyak, batas horison ombak, bahan organik sedikit.









Lampiran 2.  Kelas kesesuaian lahan tanaman Durian (Durio zibethinus MURR)

Karakteristik/Kualitas Lahan
Kelas Kesesuaian Lahan
S1
S2
S3
N
Temperatur (tc)
Temperatur rata-rata tahunan (ºC)

25-28

28-32
22-25

32-35
20-22

> 35
< 20
Ketersediaan air (wa)
-     Curah hujan (mm)

-     Kelembaban (%)

2000 -3000
> 42

1750-2000
3000-3500
36-42

1250-1750
3000-4000
30-36

< 1250
> 4000
< 30
Keteraediaan oksigen (oa)
Drainase

Baik, sedang

Agak terhambat

Terhambat, agak terhambat

Sangat terhambat, cepat
Media perakaran (rc)
-     Tekstur


-     Bahan kasar (%)
-     Kedalaman efektif (cm)
-     Gambut :
- Ketebalan (cm)
- Dengan sisipan/pengkayaan
   Kematangan


Sedang, agak halus, halus
< 15
> 100

< 60
< 140
Saprik+




15-35
75-100

60-140
140-200
Saprik+, hemik+

Agak kasar


35-55
50-75

140-200
200-400
Henik,fibrik+

Kasar


> 55
< 50

> 200
> 400
Fibrik
Ratensi hara (nr)
-       KTK liat (cmol)
-       Kejenuhan basa (%)
-       pH H2O

-       C- organik (%)

> 16
> 35
5,5-7,8

> 12

≤ 16
20-35
5,0-5,5
7,8-8,0
0,8-12


< 20
< 5,0
> 8,0
< 0,8






Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)

< 4

4-6

6-8

> 8
Sodositas (xn)
Alkalinitas / ESP (%)

< 15

15-20

20-25

> 25
Bahaya sulfidik (xs)
Kedalaman sulfidik (cm)

> 125

100-125

60-100

< 60
Bahaya erosi (eh)
-       Lereng (%)
-       Bahaya erosi

< 8

8-16


16-30

>.30
Bahaya banjir (fh)
Genangan





Lampiran 3.  Kelas kesesuaian lahan Durian di Kemukiman Saree Kecamatan
         Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar

Karakteristik/Kualitas Lahan
Kelas Kesesuaian Lahan
Nilai
Aktual
Input
Potensial
Temperatur (tc)
Temperatur rata-rata tahunan (ºC)

28

S1


S1
Ketersediaan air (wa)
-     Curah hujan (mm)
-     Kelembaban (%)

2200

S1


S1
Keteraediaan oksigen (oa)
Drainase

Baik

S1


S1
Media perakaran (rc)
-     Tekstur
-     Bahan kasar (%)
-     Kedalaman efektif (cm)
-     Gambut :
- Ketebalan (cm)
- Dengan sisipan/pengkayaan
   kematangan


Lp (h)
< 15
60

S1
S1
S3


S1
S1
S3
Ratensi hara (nr)
-       KTK liat (cmol)
-       Kejenuhan basa (%)
-       pH H2O
-       C- organik (%)

< 16

5,8


S2
S2
S1
S2

+
+

+

S1
S1
S1
S1
Toksisitas (xc)
Salinitas (ds/m)





Sodositas (xn)
Alkalinitas / ESP (%)




Bahaya sulfidik (xr)
Kedalaman sulfidik (cm)




Bahaya erosi (eh)
-       Lereng (%)
-       Bahaya erosi

10

S1
S2




S1
S2
Bahaya banjir (fh)
Genangan




Penyiapan lahan (lp)
-       Batuan di permukaan (%)
-       Singkapan batuan (%)




Kelas lahan

S3rc

S3rc

Sabtu, 03 Agustus 2013

Mari berbagi melalui: Like this: September 13, 2008  52 Balasan Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadar bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan 29 Yang menilai Ketika memasuki malam yang ke 17 di ﺡulan Ramadhan sebagian kaum muslimin dan masjid-masjid mulai diadakan peringatan turunnya al-Quran pertama kali yang disebut malam peringatan Nuzulul Quran. Hal ini juga ‘terkesan’ dikuatkan dengan catatan kaki dalam “al-Quran dan Terjemahnya” surat adh-Dhukhan ayat 3. “Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan”. [1369] malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan. Keyakinan ini bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’alaa dalam surat al-Qadr ayat pertama: اﻟْﻘَﺪْرِ ِ ﻟَﻴْﻠَﺔ ﻓِﻰ ُ أَﻧْﺰَﻟْﻨَﻪ ﻧﱠﺂ ِإ “Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].” [1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran. Ayat diatas dengan jelas bahwa al-Quran diturunkan pada malam kemulian (Lailatul Qadar) dan juga Terlihat jelas bahwa catatan kaki untuk ayat di atas dalam “al-Quran dan Terjemahnya” juga menjelaskan bahwa malam permulaan turunnya al-Quran adalah pada malam tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, malam dimana al-Quran itu turun ? apakah benar pada 17 Ramadhan seperti yang selama ini oleh sebagian kaum muslimin Indonesia mempertingatinya ? Nabi shallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada kita tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadar. Beliau pernah bersabda: “Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169) Beliau shallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: “Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (Riwayat Bukhori dan Muslim) Dengan demikian telah jelas bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka gugurlah keyakinan sebagian kaum muslimin yang menyatakan bahwa turunya al-Quran pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan. Jika ada yang berargumen, “Tanggal 17 Ramadhan yang dimaksud adalah turunnya al-Quran ayat pertama ke dunia kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam yaitu surat al-‘Alaq ayat 1-5, sedangkan Lailatul qadar pada surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran seluruhnya dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia !!?”. Maka jawabnya: Benar, bahwa turunnya al-Quran yaitu pada Lailatul qadar seperti yang tertuang dalam surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, dan setelah itu al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Seperti perkataan Ibnu Abbas radliyallahu’anhu dan yang lainnya ketika menafsirkan QS. Ad-Dukhon ayat 3: “Allah menurunkan al-Quran sekaligus daru Lauh Mahfudz ke baitul izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441) Tetapi apakah ini menjadikan bahwa benar nya pendapat bahwa turunnya ayat pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah 17 Ramadhan ?? mari kita simak pembahasan dibawah ini. Pendapat bagus syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury di Kitab Sirohnya tentang kapan awal permulaan wahyu Dalam kitab siroh beliau, beliau menjelaskan bahwa memang ada perbedaan pendapat diantara pakar sejarah tentang kapan awal mula turunnya wahyu, yaitu turunnya surat Al-Alaq: 1-5. Beliau menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21. Beliau mengatakan: “Kami menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21, sekalipun kami tidak melihat orang yang menguatkan pendapat ini. Sebab semua pakar biografi atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi Rasul pada hari senin, hal ini diperkuat oleh riwayat para imam hadits, dari Abu Qotadah radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam pernah ditanya tentang puasa hari senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.” Dalam lafdz lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun wahyu kepadaku” Lihat shahih Muslim 1/368; Ahmad 5/299, Al-Baihaqi 4/286-300, Al-Hakim 2/602. Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu adalah jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi jika kami membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qodar”, dengan riwayat Abu Qotadah, bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada hari senin, serta berdasarkan penelitian ilmiah tentang jatuhnya hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu, maka jelaslah bagi kami bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada malam tanggal 21 dari Bulan Ramadhan. (Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury Bab Di Bawah Naungan Nubuwah, hal. 58 pustaka al-Kautsar) Maka jelaslah bahwa pendapat kapan al-Quran turun, baik al-Quran turun dari Baitul Izzah ke langit dunia atau dari langit dunia ke Rasulullah keduanya saling melengkapi, dan bukan terjadi di 17 Ramadhan. Wallahu’alam. Yang bisa dipetik dari pembahasan di atas 1. Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar bukan pada malam yang dikenal dengan malam ‘Nuzulul Quran’ yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan. 2. Lebih khusus lagi bahwa turunnya wahyu kepada Rasulullah shalallallahu’alaihi wa sallam yang pertama adalah 21 Ramadhan, seperti pendapat syaikh Shafiyyurahman. 3. Peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan dengan dzikir tertentu dan bentuk pengajian khusus adalah bentuk peringatan yang tidak pernah ada landasannya dari al-Quran dan Hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, sehingga termasuk dalam perkara bid’ah. 4. Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir yang ganjil dibulan Ramadhan. 5. Peringatan lailatul qadar pada malam 27 Ramadhan (atau malam ganjil lainnya) dengan suatu pengajian khusus juga merupakan bid’ah karena Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memperingatinya melainkan beliau shallahu’alahi wa sallam menghidupkan malam tersebut dengan qiyamul lail dan memperbanyak doa. 6. Himbauan kepada para penanggung jawab “al-Quran dan Terjemahnya” agar meluruskan catatan kaki atau takwil-takwil dari ayat suci al-Quran yang hanya merupakan anggapan-anggapan yang tidak berdalil atau bahkan tafsiran/takwil yang bathil. Referensi Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul Quran pada bulan Romadhon. Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8 1429/ 2008 Abu Musa al-Atsari. Lailatul Qadar Malam Kemulian. Majalah adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1 1429 H Al-Quran dan Terjemahnya Siroh Nabawiyah, oleh Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarokfury Memuat...